Monday, December 15, 2008

Dialog!

Penulisan Skenario Lanjutan 2 (Ale)
DIALOG
GS1A, 15 Desember 2008

Menonton percakapan dalam adegan pembuka film Thelma and Louis
1.    Tokoh meminta gula para rekannya
2.    Tokoh dipanggil pelanggan
3.    Tokoh mengantarkan pesanan
4.    Tokoh mengantarkan pesanan dan mengomentari habit pelanggan lainnya

Dalam budaya yunani kuno (Aristoteles)
Dramaturgi dibangun berdasarkan plot (aksi) yang didalamnya terdapat aksi dengan meniru aksi dari kehidupan nyata. Yang penting showing, baru kemudian telling. Dalam film, dianggap penting tapi tanpa dialog storytelling bisa jalan. Hal ini terjadi pada film bisu.

Film yang menaruh dialog pada posisi yang tidak terlalu penting:
Juha (Aki Karusmaki)
Humanity (Bruno Dunont)

Film dimana terdapat kontrakdiktif antara dialog dan cara mengucapkan dialog
Usual Suspect

Sehingga ketika membuat dialog, harus jelas dulu tujuan scenenya.

Karakteristik Speech
-    Monolog : fungsi story telling mengkarakterisasi karakter
-    Narasi : fungsi story telling berhubungan dengan POV
-    monolog interior : fungsi storytelling mengkarakterisasi karakter
-    off screen sound (monolog interior dan narasi)
-    DIALOG: Pembicaraan antar karakter (kadang tidak punya tujuan storytelling, cuma sekedar chitchat)

Fungsi Dialog
-    karakterisasi siapa yang berbicara
-    ilustrasi hubungan antara siapa yang berbicara dengan karakter lainnya (termasuk pilihan kata ketika berinteraksi dengan orang lain).
-    informasi tentang hasrat, pikiran, dll
-    memperkaya aksi

Teknik dialog
-    jelas point  dari dialog yang disampaikan
-    nyaan untuk aktor
-    terkesan hidup (realis)

Dialog dan gambar :
- film bisu
- gambar dan dialog dalam film bersuara. Ketika dunia tanpa dialog sehingga terlihat seperti dunia yang absurd. Biasanya film-film atau genre-genre yang tidak lazim.

Prinsip-prinsip dialog
-    dialog sebagai pembicaraan (terdapat dua karakter atau lebih)
-    dialek, aksen, intonasi, diksi (sangat fonetik yang mengarahkan pitch, loudness, timbre). Tidak hanya apa yang dikatakan tetapi bagaimana cara mengatakannya.
-    bahasa tubuh dan karakter (karena dialog menempel padanya)

Posted by Skrip in 09:53:01 | Permalink | No Comments »

Wednesday, December 10, 2008

Point of View (POV)

Penulisan Skenario Lanjutan 2 (Ale)
Point of View
GS2A, 10 Desember 2008

Definisi
A.    Secara umum: perspektif, cara pandang, world view, idiologi
B.    Kamera : kamera mewakili siapa? Siapa yang melihat? Dari karakter siapa cerita dilihat melalui kamera? Karakter tertentu atau narator? Karakter POV biasa disebut subyektif POV, filmmaker (narator) POV biasa disebut obyektif filmmaker
C.    Secara Naratif : darimana cerita berasal? Siapa yang bercerita? Hal ini berlaku pada shot, scene, sequence, atau film.

Dalam film, ada 5 jalur informasi:
A.    Gambar
B.    (Written) Teks
C.    Speech, Monolog, dialog
D.    Musik
E.    Noise/Efek
Atau bisa juga disebut audio-visual

Jenis POV
1.    POV umum
a.    First Person POV, menggunakan kata ganti “Saya”. Semua diri orang pasti punya sudut pandang terhadap kejadian
Karakteristik:
(+) subyektif, penulis berkuasan penuh atau mempunyai kebebasan menuturkan cerita seberapa luas dan dalam informasi mengenai karakter disampaikan ke penonton.
(-) karakter tidak boleh terlihat mukanya. Cara memperlihatkan wajah dengan menggunakan cermin atau air.
Contoh film yang konsisten menerapkan first person POV adalah “Lady in the Lake”. Sepanjang film tidak diperlihatkan wajah karakter kecuali ketika dia bercermin.
 
Macam-macam first person POV:
•    First person POV singular (hanya ada satu karakter)
•    First person POV multiple (ada beberapa karakter yang jadi first person POV)
•    First person reability: bagaimana penulis membuat bingung penonton dengan memberikan kondisi ketidakkonsistenan atau kegilaan, atau antara karakterisasi dan dialog bertolak belakang

b.    Third Person POV, menggunakan kata ganti “dia”. Kita mengamati peristiwa sebagai observer. Karakter terlihat secara utuh.

Macam-macam Third person POV:
-    singular
-    multiple
-    limited third person POV
-    unlimited/ omniscient third person POV, narator

2.    POV yang tidak umum: untuk membuat ambiguitas dengan bagaimana cerita dituturkan/dilihat.
a.    Second person POV, menggunakan kata ganti “you”. Peleburan antara first person dan third person. Karakter melakukan interaksi dengan penonton.
b.    Stream of Consciousness, berhubungan alam bawah sadar, yaitu pikiran dan memori karakter. Kesannya POV orang ketiga tapi bisa juga seperti POV karakter utama.
c.    Shifting POVs, POV berubah di tengah jalan.
d.    Virtual POV, POV memang dibuat kabur menganai POV siapa, lebih tricky.

POV dan skenario.
1.    First person POV
Deskripsi skenario yang dengan menggunakan mata kamera sebagai mata karakter.

2.    Third person POV
Deskripsi skenario yang umumnya ada.

3.    Second person POV
Di POV tidak umumkan dimungkinkan adanya penjelasan teknis. Seperti:
Ale membuka pintu.

ALE
(direct adress)
Selamat pagi!

Tugas keempat tentang POV
1. POV siapa dan apa saja yang ada di skenario 20 halaman yang mau dibuat (tugas ini tidak lebih dari satu halaman).

Posted by Skrip in 05:10:50 | Permalink | No Comments »

Wednesday, December 3, 2008

Agenda Kuliah Skenario lanjutan 2

Agenda Perkuliahan Penulisan Skenario Lanjutan 2 (Ale)

10 Desember jam 10 pagi: kuliah membahas tentang P.O.V.
15 Desember : kuliah membahas tentang Dialog (semua tugas mesti sudah dikumpulkan)
22 dan 29 Desember : libur natal
5 januari : Kuliah membahas tentang Opening dan Ending + 4 Tugas mingguan (setting, karakter, Plot, POV)
12 januari: libur untuk menyiapkan skenario bahan UAS
jumat, 23 januari pukul 17.00 di ruang Ale:  menyerahkan skenario 20-30 halaman (diprint).
26 januari: UAS Skenario Lanjutan 2 (lisan dan tulis, dengan materi tugas skenario)

Tugas 3:
Menentukan Plot dan Key events beradasarkan skenario yang akan mahasiswa buat untuk tugas akhir semester
1. Jenis Plot
2. Jenis Konflik
3. Key Events

Bentuk Skenario tugas akhir Semester

1.    INT/EXT- RUANG- WAKTU (Heading Scene)

-    Setting
-    Karakter
-    Aksi

Kalo ada istilah yang sulit di indonesiakan secara umum, gunakan cetak miring dan kasi bintang + foodnote

Menggunakan Struktur Hollywood Klasik
1.    Protagonis mempunyai goal, need, desire
2.    Obyektif
3.    Kausalitas
4.    Closure

Mahasiswa yang belum mengumpulkan tugasnya:
Akbar: setting, POV
Datu: plot, karakter, POV
Gatot : setting, POV
Gusad: plot,  POV
Gunawan : setting, plot, POV
Aletra: karakter, POV
Nindi : plot, POV
Robby, plot, POV
Yoram: setting, karakter, plot, POV
Moses : setting, karakter, plot, POV,
Usha: POV
Vella: Plot, POV
Rendi : Plot, POV

Posted by Skrip in 09:01:42 | Permalink | No Comments »

Plot dan Struktur

Penulisan Skenario Lanjutan 2 (Ale)
Plot dan Struktur
GS1A, 1 Desember 2008

4 karya Dramatik (Unsur Fundamental):

1. konflik dan emosi
Konflik menjadi penting dalam dramaturgi karena dalam dramaturgi diperlukan konflik yang menari sebagai bentuk imitasi dari kehidupan manusia. Karena di dalam konflik terdapat gerak (dinamika). Ketika cerita “bergerak”, penonton akan tertarik karena di dalamnya terdapat EMOSI, ada kehidupan.

2. PROTAGONIS yang memiliki OBYEKTIF.
Obyektif yang dimaksud adalah tujuan atau pandangan hidup. Karena dia memiliki tujuan yang ingin di capai, maka diperlukan cara-cara untuk mencapai tujuan itu. Tokoh tidak mempunyai obyektif disebut sebagai tokoh statis. Tetapi status yang dimaksud berbeda dengan tokoh yang bersikap/memiliki pandangan hidup statis. Statis yang dimaksud terakhir adalah karakter yang sebenarnya memiliki target (obyektif) tetapi memilih bersikap statis. Biasanya terjadi pada karakter yang introfer. Obyektif ini bisa berupa eksplisit atau implisit. Bagaimana karakter bersikap dalam menghadapi masalah bisa mengarahkan penonton pada Obyektif.

3. hambatan

4. karakterisasi

Struktur

-    kaidah 3 babak
-    - plot point (krisis, klimaks)

Dramatik = protagonis + obyektif + hambatan + konflik + emosi

Kenapa three act struture menjadi struktur dominan? Karena paling mendekati kehidupan!
BABAK 1: (Sebelum {Obyektif) diperkenalkan}
BABAK 2 : (Usaha {obyektif) dijalankan}
BABAK 3 : (Sesudah {Obyektif) diselesaikan}

Dibabak 1, obyektif diketahui penonton (eksposisi) melalui setting, protagonis, obyektif, hambatan. Krisis adalah hilangnya kondisi keseimbangan (equilibrium). Orang sering menyebutnya sebagai transisi antara Act 1 ke Act 2. Dibabak 3, karena setelah obyektif diselesaikan tidak ada lagi masalah sehingga tidak ada point dramatik.

Plot Point: informasi/ perisitiwa yang membuat cerita bergerak dalam proses progonis mencapai obyektifnya. Di dalamnya terdapat krisis dan klimaks. KLIMAKS adalah usaha terakhir dari protagonis dalam mencapai obyektif. Karena klimaks usaha terakhir protagonis, sehingga mesti ada proses puncak berupa KEMATIAN protagonis.

 “bener dalam struk dramatik ada opening, midle, ending tapi kan nggak mesti ditampilkan berurutan” Orson Welles

Posted by Skrip in 08:51:09 | Permalink | No Comments »

Konflik dan Plot

Konflik dan Plot
Penulisan Skenario Lanjutan 2 (Ale)
GS1A, 24 November 2008

Kenapa hidup menarik?
Kenapa dramaturgi menarik?
Dramaturgi: imitasi realita/hidup
Asumsinya semua orang pasti punya tujuan yang ingin dicapai
Ketika orang yang punya tujuan, maka peluang terjadinya punya konflik pun muncul. Konfliklah kemudian yang membuat hidup/drama yang menjadi menarik. Konflik tidak hanya diterapkan dalam cerita tetapi juga elemen-elemen style seperti warna, komposisi, cahaya, gerak obyek, dan editing.
Oleh karena itu, konflik menjadi hal yang mutlak dalam dramaturgi
Mesti bisa punya alasan mengapa cerita menarik bagi penonton?

Dramatis : tendensinya tragis (sesuatu yang “memainkan” emosi)

Elemen dasar drama: KONFLIK

Arti kata konflik: durasi atau emosi yang memiliki petensi konflik

Manifestasi konflik
A. Fisik
B. Psikologis
C. Subtil/ konflik
D. Eksplisit

Konflik statis dan dinamis
Konflik statis pada saat karakter pasif (tidak ada usaha menghilangkan hambatan). Dia menjadi dinamis ketika karakter aktif.

Konflik dan dramatik:
- konflik sebagai jiwa dari kehidupan

- konflik sebagai faktor yang menarik penonton
ketika telah menentukan konfliknya (key event), maka bikin se-spektakuler mungkin. Spektakuler artinya terdapat penekanan terhadap konflik. Yang membuat penonton selalu ingat terhadap kejadian tersebut. Yang itu ditunjukkan dalam aksi.

Contoh film Assasination of Jesse James: gerakan jesse james yang penuh curiga terhadap orang yang akan membunuhnya menjadi satu konflik yang menarik.

- konflik sebagai faktor identifikasi
konflik menyebabkan proses identifikasi antara penonton dengan karakter di film. Yang penting kasi penonton TUJUAN yang menarik

- konflik sebagai alat untuk karakterisasi
wujudnya
a. situasi konflik
b. mengatasi hambatan
c. mencapai tujuan

Prinsip dasar drama, drama terjadi karena adanya
A. Protagonis/ karakter (tokoh yang memiliki tujuan)
B. tujuan/ objective
C. hambatan
D. Konflik
E. Emosi

Esensi konflik: apa yang bikin cerita menarik!

Konflik tidak ada hubungan dengan struktur (bukan berarti Struktur Hollywood Klasik menarik tetapi Art Sinema Narration otomatis membosankan).

Posted by Skrip in 08:26:40 | Permalink | No Comments »

Sunday, November 30, 2008

Plot dalam naratif

Penulisan Skenario Lanjutan 2A (Ale)

GS1A, 17 November 2008

PLOT

 

Menonton Film “Their Story” dari India

 

Aristotle dan Plot –> asal konsep

Ada di poetik

Plot penting karena di dalamnya terdapat agen yang bertindak (dan terlihat secara visual)

(berdasarkan tragedi yunani)

 

Plot sempurna menurut Aristotles

dalam satu cerita hanya memiliki 1 tujuan dan terjadi perubahan keuntungan pada karakter/pahlawan/tokoh dari kebahagiaan menjadi kepedihan

 

Plot

Definisi menurut Bordwell:

Semua peristiwa yang langsung diperlihatkan pada penonton, termasuk hubungan kausalitas (dalam film naratif), urutan kejadian, durasi atau frekuensi peristiwa, serta lokasi dari ruang.

 

Esensi:

Peristiwa penting dan logika antara satu peristiwa dengan peristiwa lainnya.

Dalam membuat cerita, putuskan plot pointnya apa saja yang dianggap vital.

 

Jangan hilangkan plot point meskipun adegannya tidak dramatis, termasuk tulisan on black screen.

 

Hubungan antar peristiwa:

-          hubungan kausalitas (konsep klasik, novel realis abad ke-19)

-          prinsip ketidakpastian Heisenberg (Konsep modern dan post modern), sebuah konsep fisika dimana dia mengkritisi konsep kausalitas dan linearitas waktu

 

 

Jenis-jenis Plot:

-          plot konflik

o   man vs man

o   man vs self

o   man vs nature

o   man vs society

o   man vs machine

o   man vs God

o   God vs everybody (terjadi pada folklore)

 

-          plot non konflik

o   ultra realis/ slice of life : menampilkan potongan hidup seseorang: misal perjalanan sehari seorang gelandangan atau upacara pernikahan adat sunda

 

o   Revelation/ stream of consciousness : dikembangkan oleh James Joyce, Virginia Wolves, dimana banyak menceritakan isi perasaan dan pemikiran, tentang seseorang yang mencari dan menemukan jati dirinya. Lebih banyak internal konflik.

 

o   Journal/ road movie: film perjalanan

 

 

Plot film panjang vs film pendek

Tergantung pada beban dari konflik dengan pertimbangan durasi. Karena ketika konflik terlalu besar atau berat, khawatirnya durasinya nggak cukup dan tidak terlihat usaha yang alamiah dari tokoh untuk mencapai goal, nead, dan desire.

 

 

Makanya, balik ke omongan Aristoteles, mending pake 1 tujuan minim subplot atau mending pake accindental plot.

 

 

 

Tugas minggu depan:

  1. bikin jenis plot
  2. bikin plot point dari cerita yang buat tugas akhir

maksimal 2 halaman. Bukan bikin treatment apalagi skenario

maksimal 5 peristiwa penting

Posted by Skrip in 11:06:30 | Permalink | No Comments »

Teori tentang Karakter

Penulisan Skenario Lanjutan 2A (Muhammad Ariansah)

Teori tentang Karakter

GS1A, 3 November 2008


Betapa nama begitu penting dari sebuah karakter

Alasan kenapa karakter tidak punya nama:

  1. Namanya tidak disebut di sepanjang film
  2. Ada kejadian dramatis sehingga dia tidak punya nama (kayak Tarzan tapi lebih ekstrim lagi)

 

Dramaturgi dalam Karakter

-          Psikologi

-          Antropologi

-          Sosiologi

 

Dalam film Solaris, Tarkovski sengaja memberi nama “Rusia” pada karakter-karakternya.

 

Cerita Rusia abad 19 “Brothers Karamazov”

Seorang bapak punya 3 anaka, yang masing-masing karakternya bertolak belakang. Seorang anak adalah pendeta, yang lain skeptis, satu lagi moody, terakhir adalah anak haram.

 

Kemudian mesti digali siapa namanya dan sejarah nama itu.


Ale punya teman yang namanya YASSIR ARAFAD

 

Ramalan joyoboyo, menyebutkan pemimpin negara berhubungan dengan NOTONEGORO (SukarNO, SuharTO, YudhoNO) sehingga ada calon presiden yang ganti nama dengan akhiran GO sehingga dia bisa jadi presiden

 

Anak UNPAD KKN menemukan nama seorang anak bernama VAGINA. Ketika ditanya ke ibunya, ternyata ibunya kasi nama asal kerana liat tulisan menarik di koran

 

Jangan kasi nama yang terlalu berat pada karakter yang melakukan tindakan “berat”. Kecuali memang sengaja untuk tujuan kontrakdiksi.

 

 

Teori tentang Karakter:

 

1. Aristoteles

Agen dan karakter

Agen      : orang yang tampil di teater (berhubungan dengan tindakan)

Karakter : kualitas seseorang (trait/ ciri khas) è rendah hati, pemaaf

Menurut Aristotels yang terpenting adalah Agen karena berhubungan langsung dengan tindakan. Dia memisahkan konsep karakter dan karakterisasi (sifat dan tindakan).

 

2. Formalis dan Strukturalis (Vladimir Propp, Bakhtin, dll)

Karakter adalah produk dari plot dimana sifat karakter hanya sebagai fungsi. Fungsi berarti karakter sebagai elemen pendukung plot. Propp membuat buku “Morphology of Folktale” dimana di Rusia terdapat 30 fungsi, dengan plot yang sama.

 

  1. Tzevetan Todorov

Dia setuju dengan teori yang ada sebelumnya. Cuman mesti lihat lagi ke ceritanya.

Fiksi hanya ada 2 jenis naratif: character oriented dan plot oriented

 

  1. Roland Barthes (tokoh Post-Strukturalis)

Karakter adalah produk kebudayaan borjuis karena karakter seolah memiliki keistimewaan sehingga terkesan borjuis

Prinsip-prinsip karakterisasi seseorang:

-          tindakan/tingkah laku saat berada dalam situasi konflik (statis atau dinamis?)

-          obyektifnya secara umum atau khusus

-          alasan yang mendasari obyektifnya (motivasi, hasrat)

-          pilihan-pilihannya dalam mewujudkan obyektifnya


Posted by Skrip in 11:02:56 | Permalink | No Comments »

Kaidah 3 Unit dan (sedikit tentang) Karakter

Penulisan Skenario Lanjutan 2A (Mohammad Ariansah)

GS1A, 27 Oktober 2008


Kaidah 3 Unit

 

Kaidah 3 unit terdiri dari waktu, tempat dan aksi/action

 

  1. Aristotle: kaidah 3 unit difokuskan/hanya berpusat pada aksi (plot)
  2. Kaidah 3 unit muncul di Italia pada abad ke-16 dan perancis abad ke-17 (jaman renaissance)
  3. Penulis Yunani lebih menekankan perhatian pada waktu, tetapi bagi Aristotle tidak mutlak

 

 

Unit waktu:

Durasi yang dibutuhkan protagonis untuk mencapai tujuan/keinginan/hasrat (obyektif) è mengahasilkan “perisitiwa yang mungkin terjadi setelahnya”

 

*) konsep kausalitas belum muncul di kebudayaan Yunani

*) kaidah waktu: sehari 24 jam?

 

Unit tempat:

-          spesifiksai teater

a.       peristiwa hanya terjadi di “bagian depan istana/rumah pemimpin”. Karena merupakan pertunjukan langsung, akibatnya setting menjadi statis dan terbatas.

 

-          spesifikasi film

a. Setting bersifat mutlak karena bisa terjadi dimana saja dan kapan saja, tidak seperti yang ada di teater. Setting bisa sangat realistik.

 

 

Pengantar tentang Karakter

 

Karakter

Entitas atau sesuatu (thing) yang berkaitan pada makhluk (orang, binatang dan tumbuhan) atau “thing” yang ada dalam novel, film, teater atau karakter fiksi lainnya.

 

Teori tentang jenis karakter

 

Menurut Josip Novakovich

  1. Flat Character

Tokoh yang hanya memiliki 1 dimensi. Dari awal hingga akhir cerita tidak pernah berubah karakterisasinya. Biasanya terjadi pada supporting actor (sidekick atau helper). Karakter cenderung datar.

 

  1. Round Character

Tokoh yang memiliki lebih dari 1 dimensi. Biasanya terjadi pada karakter utama. Membuat karakter menjadi lebih menarik.

 

 

Penciptaan Karakter

 

Sumber karakter:

-          Autobiografi : refleksi diri (membuat karakter dari diri sendiri: bisa secara split character atau benar-benar seperti orang yang sebenarnya)

-          Biografi : menceritakan orang lain (baik secara real person maupun metafora)

-          Gabungan

-          Metode daftar pertanyaan seperti hal 54-55 di Fiction Writer Workshop (nama, umur, tempat lahir, tempat tinggal, pekerjaan, penampilan, pakaian, kekuatan, kelemahan, obsesi, ambisi, kebiasaan, hobi, penyakit, keluarga { orang tua, anak, saudara kembar}, teman, binatang peliharaan, pandangan politik, sejarah erotis, buku favorit, hal yang ditakuti, hal yang disenangi, peristiwa traumatis yang pernah dialami, pengalaman paling menyenangkan, pertentangan paling besar antara dulu dan sekarang.

 

 

 

Teori tentang karakterisasi

 

Karakterisasi

Cara-cara yang dipertujukkan pada pembaca atau penonton untuk mengenal karakter

 

1. Repeated action

2. penampilan

Posted by Skrip in 10:57:34 | Permalink | No Comments »

Pengantar tentang Setting

Penulisan Skenario Lanjutan 2A

Pengantar tentang Setting

GS1A, 13 Oktober 2008

 

Setting (Fiction Writer’s Workshop halaman 25)

Tidak disinggung secara spesifik oleh Aristotle (menurut dia elemen dramaturgi antara lain plot, karakter, thought, speech/dialog, spectacle/penampilan, song) karena menurut aristotles setting menyatu dengan plot. Dianggap tidak perlu diperhatikan secara khusus dalam menjelaskan tragedi.

 

Kelemahan dari setting dianggap menyatu dengan plot.

-          setting hanya berisi tempat dan waktu kejadian (setting mo dipindah dimana aja, cerita tetep jalan)

 

Setting berisi ruang, waktu, posisi, atmosfer, mood lingkungan (establish)

Dalam menulis skenario yang pertama di tulis adalah scene heading dan deskripsi setting (elemen setting)

 

 

Proses penciptaan Setting

tips : sering jalan-jalan untuk melihat sesuatu yang spesfik dari tempat itu untuk mewudujkan setting yang Nyata atau imajinasi

 

Karakteristik

  1. Setting sebagai dasar cerita

Setting = karakter = plot

Setting diangap menghasilkan karakter manusia tertentu. Orang lahir karena lingkungan (narture), bukan bawaan lahir (nature)

Berhubungan dekat dengan ilmu antropologi (manusia dibentuk lingkungan).

Cerita bergulir dari setting (karena karakter dan plot kemudian mengikuti sendiri)

Terjadi juga di dunia imaninasi seperti Star Wars dan Planet of the Apes (tentunya berdasarkan riset sehingga peristiwanya make believe)

 

  1. Setting sebagai antogonis

Setting antagonis bisa berbentuk bencana alam atau sosial

 

  1. Setting sebagai efek khusus
    1. Setting sebagai visi filmmaker

Berisi ide dari suatu setting, berupa ide implisit, symtomatic, ideologi, image. Misal: Jepang sebagai virtual city, new york simbol kekuasaan

 

  1. Setting sebagai mood, atmosfer

Biasanya bekerja dengan genre tertentu.

Setting sebagai penunjang perasaan tertentu.

 

 

  1. Setting sebagai foreshadowing

Setting menyiapkan penonton ke suatu peristiwa (sebagai pintu masuk cerita)

 

  1. Setting sebagai potret karakter

Dengan tampilan setting, tergambarlah karakteristik karakter.

 

 

 

Spesifikasi Robert Liddels (ada dibuku story and discourse hal 143)

 

Korelasi setting dengan karakter dan plot (pada natural setting) :

  1. Utilitarian (hubungan minimal dengan cerita)

dimana setting memberikan kontribusi yang minimal terhadap action. Setting tidak menyentuh wilayah emosi.

 

  1. Simbolik (hubungan erat terhadap cerita)

Setting memiliki hubungan yang sangat erat dengan aksi. Sifatnya tidak netral, tetapi mirip dengan aksi.

 

  1. Irrelevan (tidak ada hubungan dengan cerita)

Setting sama sekali tidak memliki hubungan karakter dan plot, dimana karakter tidak secara khusus menyadarinya.

 

  1. Countries of the mind

Setting menggambarkan dunia yang ada di dalam pikiran karakter (inner landscape), seperti flasback, imajinasi, dll

 

  1. Kaleidoscopic

Terjadi perubahan terhadap setting dari dunia fisik luar (dunia sehari-hari) ke dunia imajinasi. Penonton bingung terhadap dunia fiksi atau imajinasi

Posted by Skrip in 10:55:27 | Permalink | No Comments »

Prinsip-Prinsip dasar Tragedi

Skenario Lanjutan 2A

Lanjutan Poetik bab VII sampai XVI

Prinsip-prinsip dasar Tragedi

GS1A, 22 September 2008

 

Nilai penting 6 elemen pokok tragedi:

 

  1. Plot

              imitasi tindakan manusia yang memiliki kualitas moral sesuai dengan karakter bahagia atau tidak. Jadi bukan imitasi karakter, tetapi karakter disertakan karena tindakannya.

              Tujuan dari tragedi

              Prinsip dasar, hati, dan jiwa dari tragedi

              Elemen terpenting seni tragedi

 

  1. Karakter

Imitasi atas sebuah tindakan dan mengimitasi orang-orang terutama untuk kepentingan tindakan mereka.

 

  1. Pemikiran/ Thought

-          kemampuan untuk mengatakan isu-isu dan poin-poin tertenu yang menyinggung topik tertentu pula (sebuah kemampuan yang berasal dari seni retorika)

-          jalan untuk membuktikan sesuatu demkian ataut idak demikian atau mengatakan suatu prinsip umum

 

  1. Ekspresi Verbal/Speech:

Pembawaan pemikiran/ thought melalui bahasa

 

  1. Komposisi lagu/song

Atraksi sensual yang terbesar

 

  1. Dandanan/ Visual Spectacle

Memiliki pengaruh emosional yang kuat, tapi elemen artistik paling kecil

      Sebab kekuatan tragedi dapat dirasakan meski tanpa pertunjukan publik dan aktor

 

Prinsip-prinsip umum plot tragedi

Tragedi: sebuah imitasi dari sebuat tindakan yang lengkap dan utuh menyeluruh serta memiliki semacam ukuran

 

Utuh: awal-tengah-akhir (argumentasi Aristolte di Poetik bab 11 hal 42-43)

 

Awal adalah sesuatu yang tidak perlu meneruskan sesuatu yang lain, tetapi setelahnya sesuatu yang lain secara alamiah terjadi

 

 

Tengah adalah secara alamiah mengikuti sesuatu yang lain dan sesuatu yang lain lagi mengikutinya.

 

Akhir adalah secara alamiah mengikuti sesuatu yang lain tetapi tidak ada lagi setelahnya.

 

 

Maka plot yang tersusun dengan bagus tidak dimulai dan diakhiri pada sembarang titik yang kebetulan tetapi mengukuti acuan yang telah ditentukan.

 

 

-          sebah imitasi dari suatu tindakan yang utuh dan menyeluruh yang mempunyai ukuran (karena paling serius implikaisnya).

 

 

Konsep prinsip Aristotles: imitasi, rasa iba dan ketakutan.

Rasa iba dan ketekutan kalo pake istilah sekarang sering disebut sebagai nilai dramatik.

 

Komedi

(dianggap inferior oleh Aristotles)

 

Komedi adalah sebuah imitasi atas orang-orang yang inferior (tragedi berisi orang-orang superior) namun tidak sepenuhnya mengarah pada kebobrokan tetapi meniru yang buruk. Hal yang menggelikan dalam komedi merupakan salah satu bagiannya (dari infrioritas manusia) yang penting, yang merupakan kelemahan yang tidak mengakibatkan kesakitan atau kerusakan. Jadi tidak akan pernah ada kematian.

 

Komedi adalah sesuatu yang buruk (sebagai lawan dari tragedi) dan tak beraturan tetapi tidak menyakitkan.

 

 

Plot berisi proses perubahan melalui karakter (dari buruk ke baik atau sebaliknya).

Bagaimana memunculkan rasa iba

  1. orang baik jadi jahat, maka yang timbul bukanlah rasa kasihan tetapi jijik karena secara moral salah.
  2. Orang jahat menjadi baik, masalah dari cerita ini adalah bukan menjadi plot yang tragis karena ceritanya aneh karena tragedi berisi orang-orang superior. Menurutnya, orang-orang yang bruruk tidak punya kualitas yang diinginkan. Sehingga sejak awal penonton akan berjarak.
  3. (hal 53) Baik menjadi buruk karena sebuah kesalahan. Orang yang benar2 jahat, struktur semacam ini mengundang simpati karena rasa kasian ditujukan pada orang yang tidak pantas menerimanya. (b) rasa ketakutan ditujukan pada orang yang mengalami kemalangan.

 

 

PRINSIP ARISTOTLES

  1. Plot harus memiliki panjang (durasi) tetapi harus mudah diingat. Batas panjangnya ditentukan oleh kompetisi tragis (potensi konflik) dan rentang perhatian yang panjang. Artinya, terjadi dalam rangkaian yang tidak terputus selain perubahan peluang dari jelek ke nasib baik atau sebaliknya.
  2. Karena plot sama dengan imitasi suatu tindakan, maka imitasi itu harus menyatu dan lengkap sempurna,  dan peristiwa-peristiwa pembangun harus tersusun dengan benar-benar rapat hingga jika salah satu dari peristwa tersebut digeser ke lain tempat atau dihilangkan, maka keseluruhannya akan longgar dan tidak beraturan. (kausalitas)
  3. Tugas penyair (penulis skenario) bukan menyampaikan apa yang terjadi (karena penulis bukan sejarawan) tetapi apa yang mungkin terjadi, sesuai dengan aturan peluang (probabilitas) atau keperluan. Kepeluan berhubungan dengan strategi penulis.

 

 

 

4. syarat karakter tragedi (berdasarkan plot (Poetik bab XV)

a. (halaman 60) karakter harus baik

b. karakter harus tepat/layak (untuk tumbuh di dunia cerita yang dibangun). Karena sebuah karakter mungkin berani tetapi tidaklah tepat bagi seorang perempuan (disesuaikan dengan kebutuhan cerita).

c. ada kemiripan dengan watak dasar menusia secara umum.

d. karakter konsisten.

 

Poetik punya kecenderungan menggunakan statement yang tidak selesai (justru disitu dramaturgi bisa berkembang dengan intepretasi yang berbeda). Dia berusaha menarik semua itu ke plot sebagai esensi dari drama.

Posted by Skrip in 10:51:37 | Permalink | No Comments »