Skenario Lanjutan 2A
Lanjutan Poetik bab VII sampai XVI
Prinsip-prinsip dasar Tragedi
GS1A, 22 September 2008
Nilai penting 6 elemen pokok tragedi:
- Plot
– imitasi tindakan manusia yang memiliki kualitas moral sesuai dengan karakter bahagia atau tidak. Jadi bukan imitasi karakter, tetapi karakter disertakan karena tindakannya.
– Tujuan dari tragedi
– Prinsip dasar, hati, dan jiwa dari tragedi
– Elemen terpenting seni tragedi
- Karakter
Imitasi atas sebuah tindakan dan mengimitasi orang-orang terutama untuk kepentingan tindakan mereka.
- Pemikiran/ Thought
- kemampuan untuk mengatakan isu-isu dan poin-poin tertenu yang menyinggung topik tertentu pula (sebuah kemampuan yang berasal dari seni retorika)
- jalan untuk membuktikan sesuatu demkian ataut idak demikian atau mengatakan suatu prinsip umum
- Ekspresi Verbal/Speech:
Pembawaan pemikiran/ thought melalui bahasa
- Komposisi lagu/song
Atraksi sensual yang terbesar
- Dandanan/ Visual Spectacle
Memiliki pengaruh emosional yang kuat, tapi elemen artistik paling kecil
Sebab kekuatan tragedi dapat dirasakan meski tanpa pertunjukan publik dan aktor
Prinsip-prinsip umum plot tragedi
Tragedi: sebuah imitasi dari sebuat tindakan yang lengkap dan utuh menyeluruh serta memiliki semacam ukuran
Utuh: awal-tengah-akhir (argumentasi Aristolte di Poetik bab 11 hal 42-43)
Awal adalah sesuatu yang tidak perlu meneruskan sesuatu yang lain, tetapi setelahnya sesuatu yang lain secara alamiah terjadi
Tengah adalah secara alamiah mengikuti sesuatu yang lain dan sesuatu yang lain lagi mengikutinya.
Akhir adalah secara alamiah mengikuti sesuatu yang lain tetapi tidak ada lagi setelahnya.
Maka plot yang tersusun dengan bagus tidak dimulai dan diakhiri pada sembarang titik yang kebetulan tetapi mengukuti acuan yang telah ditentukan.
- sebah imitasi dari suatu tindakan yang utuh dan menyeluruh yang mempunyai ukuran (karena paling serius implikaisnya).
Konsep prinsip Aristotles: imitasi, rasa iba dan ketakutan.
Rasa iba dan ketekutan kalo pake istilah sekarang sering disebut sebagai nilai dramatik.
Komedi
(dianggap inferior oleh Aristotles)
Komedi adalah sebuah imitasi atas orang-orang yang inferior (tragedi berisi orang-orang superior) namun tidak sepenuhnya mengarah pada kebobrokan tetapi meniru yang buruk. Hal yang menggelikan dalam komedi merupakan salah satu bagiannya (dari infrioritas manusia) yang penting, yang merupakan kelemahan yang tidak mengakibatkan kesakitan atau kerusakan. Jadi tidak akan pernah ada kematian.
Komedi adalah sesuatu yang buruk (sebagai lawan dari tragedi) dan tak beraturan tetapi tidak menyakitkan.
Plot berisi proses perubahan melalui karakter (dari buruk ke baik atau sebaliknya).
Bagaimana memunculkan rasa iba
- orang baik jadi jahat, maka yang timbul bukanlah rasa kasihan tetapi jijik karena secara moral salah.
- Orang jahat menjadi baik, masalah dari cerita ini adalah bukan menjadi plot yang tragis karena ceritanya aneh karena tragedi berisi orang-orang superior. Menurutnya, orang-orang yang bruruk tidak punya kualitas yang diinginkan. Sehingga sejak awal penonton akan berjarak.
- (hal 53) Baik menjadi buruk karena sebuah kesalahan. Orang yang benar2 jahat, struktur semacam ini mengundang simpati karena rasa kasian ditujukan pada orang yang tidak pantas menerimanya. (b) rasa ketakutan ditujukan pada orang yang mengalami kemalangan.
PRINSIP ARISTOTLES
- Plot harus memiliki panjang (durasi) tetapi harus mudah diingat. Batas panjangnya ditentukan oleh kompetisi tragis (potensi konflik) dan rentang perhatian yang panjang. Artinya, terjadi dalam rangkaian yang tidak terputus selain perubahan peluang dari jelek ke nasib baik atau sebaliknya.
- Karena plot sama dengan imitasi suatu tindakan, maka imitasi itu harus menyatu dan lengkap sempurna, dan peristiwa-peristiwa pembangun harus tersusun dengan benar-benar rapat hingga jika salah satu dari peristwa tersebut digeser ke lain tempat atau dihilangkan, maka keseluruhannya akan longgar dan tidak beraturan. (kausalitas)
- Tugas penyair (penulis skenario) bukan menyampaikan apa yang terjadi (karena penulis bukan sejarawan) tetapi apa yang mungkin terjadi, sesuai dengan aturan peluang (probabilitas) atau keperluan. Kepeluan berhubungan dengan strategi penulis.
4. syarat karakter tragedi (berdasarkan plot (Poetik bab XV)
a. (halaman 60) karakter harus baik
b. karakter harus tepat/layak (untuk tumbuh di dunia cerita yang dibangun). Karena sebuah karakter mungkin berani tetapi tidaklah tepat bagi seorang perempuan (disesuaikan dengan kebutuhan cerita).
c. ada kemiripan dengan watak dasar menusia secara umum.
d. karakter konsisten.
Poetik punya kecenderungan menggunakan statement yang tidak selesai (justru disitu dramaturgi bisa berkembang dengan intepretasi yang berbeda). Dia berusaha menarik semua itu ke plot sebagai esensi dari drama.